Categories
Catatan Kecil Kutipan

Manusia dan Segala Kemungkinannya

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Pada setiap “keadaan” selalu ada ruang untuk segala kemungkinan-kemungkinan perubahan. Berlaku bahwa “keadaan” saat ini bukanlah sesuatu “ketetapan”, tetapi “keadaan” saat ini adalah “kekinian” yang berlalu ke masa depan.

Aku saat ini belum tentu masih “aku” yang sama di masa depan, lingkunganku saat ini belum tentu masih “lingkunganku” di masa depan. Juga bahwa sebuah “kebenaran” saat ini belum tentu masih menjadi sebuah “kebenaran” di masa depan.

Perubahan adalah ketetapan semesta. Lingkungan berubah, manusia berubah. Dan sudah menjadi garis semesta juga bahwa dalam setiap proses–hidup selalu ada ruang untuk segala kemungkinan-kemungkinan.

Adalah bijaksana menyikapi perubahan manusia dan lingkungan disekitar kita sebagai hal yang biasa-biasa saja, tak perlu kagetan, dan tak perlu juga menghakimi keadaan.

Emha Ainun Nadjib dalam: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki (“Sayap-sayap Kerbau” 146-148; 2007), : Memang tidak ada makhluk Tuhan yang cakrawala kemungkinannya melebihi manusia. Manusia adalah sepandai-pandainya makhluk, namun ia bisa menjadi sedung-dungunya hamba Tuhan. Ular saja mengerti persis kapan ia harus makan, seberapa banyak yang sebaiknya ia makan, serta kapan ia mesti berhenti makan. Sementara manusia makan kapan saja, menangguk keuntungan tak terbatas sebanyak-banyaknya–seandainya ia tak dibatasi oleh maut.

Manusia itu paling lembut, tapi ia juga yang paling kasar. Manusia bisa mencapai kemuliaan kepatuhan kepada Tuhan, namun ia juga mampu melorot ke titik paling nadir untuk bandel, mokong, mbalela dan makar. Untunglah, Allah itu sendiri adalah khoirul makirin: sebaik-baiknya pelaku makar.

Manusi adalah mahluk Allah termulia. Ahsani taqwim. Tapi ia juga yang paling hina dan paling rendah. Asfala safilin.

Doa kita hanya sekalimat: “Ya Allah, makhlukMu yang asfala safilin, tolong jangan izinkan punya kekuasaan dan memegang senjata. Amin.”

Categories
Puisi

Jam 3 Pagi

Angin masih hening,
hidup masih terbungkus selimut-selimut,
pintu-pintu masih rapat tertutup.

Nafas-nafas antara ada dan tiada,
tangis tawa masih katup.

Lakon esok masih mimpi.

Jam 3 pagi,
kudapati hamparanMu tak terperi.

Categories
Prosa

Ziarah

Pada air kali yang mengalir menderaukan riak tanpa jeda, pada batu-batu besar disepanjang aliran yang teguh dalam diam menekuni nasibnya. Ditempat ini oleh kekasihMu ilmuMu digali, melahirkan “sejati” hingga tak ada lagi “mati”.

Pada titik dan tempat sama, pada riyadloh yang masih sebatas raga, aku yang buta akan hikmah dan penuh kotor luka ini datang dalam ziarah menapaki tilas KekasihMu.

Pada duduk sila dan tengadah tangan yang goyah dan jauh dari sempurna, pada bayang-bayang pikuk dunia yang tak luput dikepala, ku dawamkan doa-doa ala kadarnya, mengharap ridlhoMu.

Categories
Kutipan

Karya Manusia

Karya manusia harus menjadi karya Tuhan
aku harus memulai pada diriku sendiri
dan tidak boleh berakhir pada diriku sendiri

Fauz Noor

Dalam :
Tapak Sabda – Sebuah Novel Filsafat

Categories
Kutipan Puisi

Today’s Poem: Misal

Misal

Misalkan Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?

(Jokpin, 2016)

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Categories
Status

Berbuatlah!

Bergerak, berbuatlah. Tak ada lagi waktu untuk diam menunggu.

Categories
Kutipan

Today’s Joke: Saksi

‘Tis what Suroboyonese say : Jancuk !
Categories
Kutipan Puisi

Today’s Poem: Berpuisilah